Thursday, November 19, 2009

Dongeng Sebelum Tidur


Mbah Minah dari Banyumas


Perempuan lanjut itu akrab dipanggil Mbah Minah. Umurnya 65 tahun. Dia tinggal di Banyumas, Jawa Tengah. Entah mimpi apa perempuan ini sampai dia harus “meringkuk” sebagai tahanan rumah karena memungut 3 buah kakao yang jatuh di pekarangan perkebunan tak jauh dari rumahnya. Dia dituduh maling dan kena jerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.

Wednesday, November 18, 2009

Apakah Pak Kiai Takut Kiamat?



Cermati berita keputusan MUI Kabupaten Malang ini:


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengharamkan film 2012 karena dampak isi cerita film tersebut akan membuat masyarakat resah terkait tibanya hari kiamat pada 2012 (1). MUI Kabupaten Malang juga mengimbau umat Islam untuk tidak menonton film tersebut apalagi mempercayai isinya.

Ketua MUI Kabupaten Malang, KH Mahmud Zubaidi, kemarin, mengatakan, sebagai orang Islam memang harus mempercayai adanya hari kiamat. Namun, untuk penggambaran secara nyata dan kepastian terjadinya, merupakan kuasa dari Yang Maha Kuasa (2).

”Mengenai kapan terjadinya hari kiamat merupakan kuasa dari Sang Pencipta. Jadi kita tidak boleh menentukan hari ataupun tahunnya. Jika hal itu terjadi maka bisa dikatakan menyesatkan (3),” kata dia.

Ia menyayangkan, penayangan film yang berjudul 2012 dan menceritakan hari kiamat dengan penggambaran secara nyata yang kini banyak diputar di bioskop. Menurut dia, pengharaman MUI Malang ini merupakan respons terhadap isi cerita film tersebut yang terlalu jauh menceritakan waktu datangnya kiamat pada 2012. ”Film 2012 tidak pantas untuk ditayangkan sebab bisa memengaruhi pemikiran orang. Ini menyesatkan,” kata dia.

Mereka akan cenderung percaya bahwa hari kiamat benar datang pada 2012. Inilah efek negatif dari film tersebut (4),”kata dia.

Kita bahas poin per poin pernyataan Pak Ketua MUI:

Sunday, September 13, 2009

Tuhan Tidak Bodoh

Ini cerita lucu yang satir. Di Wincosin, Amerika, ada sepasang orangtua dinyatakan bersalah oleh pengadilan setempat karena membiarkan anaknya mati. Ketika anak mereka sekarat, sama sekali tak ada upaya mengantarkan buah hati mereka itu ke dokter agar mendapat penanganan medis.

Tapi bukan berarti mereka ”tidak berbuat apa-apa” untuk menyembuhkan anaknya. Mereka juga sudah “berusaha”. Tapi usaha itu malah bikin si anak sekarat; mereka hanya berdoa sepanjang hari agar anak mereka sembuh.

Mereka berharap kebaikan Tuhan turun saat itu juga. Tapi, ya itu. Restu Tuhan bukan SMS yang bisa sampai saat itu juga. Sementara mukjizat tak turun juga, si anak semakin parah. Tak ada penanganan medis, akhirnya lewat.

Maafkan Pertanyaanku, Tuhan

Malam sepanjang Ramadan ini pemandangan yang kentara di mana-mana, di Jakarta, itu nyaris serupa. Tiap jelang makan sahur segerombolan orang, entah dari ormas atau kelompok pengajian mana, berbondong-bondong sembari menggotong nasi bungkus dan dibagikan ke siapa saja orang yang mereka temui di sepanjang jalan, yang mereka definisikan sebagai duafa.

Indah memang. Kelihatannya semangat berbagi itu tulus. Meringankan beban sesama berembuskan semangat kemanusiaan.

Tapi, ketika aku sempat menyapa beberapa pembagi rezeki itu, aku jadi punya sedikit pandangan yang membingungkanku sendiri.

Jelajah

Loading...